Opini

7559

MODAL POLITIK

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kapan saatnya seseorang maju dalam kontestasi politik praktis. Maju menjadi kandidat dalam pemilu legislatif ataupun kepala daerah bukanlah suatu hal yang mudah, bahkan untuk “calon pelengkap” sekalipun. Maju sebagai kandidat dalam pemilu ataupun pilkada seseorang harus memiliki modal politik. Modal politik (political capital) sebagaimana merujuk pada konsep modal politik Pierre Bourdieu terdiri dari empat jenis modal politik, yakni modal ekonomi (materi), modal sosial (hubungan atau jaringan pertemanan), modal budaya (pendidikan), dan modal simbolik (reputasi, nama baik, kehormatan) (dalam Mas’oed dan Savirani, 2011:72-73). Bagi kaum mendang-mending misalkan, maju sebagai “calon pelengkap” paling tidak harus memiliki modal budaya. Yup, dalam hal ini menjadi calon anggota legislatif ataupun kepala daerah harus memiliki minimal ijazah SLTA atau sederajat. Modal sosial, dalam praktiknya modal ini biasanya sangat erat kaitannya dengan jejaring sosial seseorang. Dalam politik praktis di Negara kita biasanya modal sosial biasanya dikaitkan  dengan basis-basis organisasi keagamaan di mana menggaet kandidat yang memiliki basis organisasi keagamaan tertentu dapat memberikan dampak signifikan dalam mendulang perolehan suara (Pradana, 2020:417-438). Modal simbolik, dalam pengalaman saya jika ketika berkuliah di Yogyakarta, Ratu Kesultanan Yogyakarta sepertinya tidak perlu “bekerja keras” dalam kampanye DPD untuk lolos ke Senayan. Sebaliknya, Sultan Pontianak dalam Pemilu 2024 ini masih belum dapat menyaingi nama beken Petinju Daud Jordan. Ya begitulah modal simbolik bekerja, sangat tergantung dari ekosistem di mana simbol tersebut berada. Terakhir adalah modal ekonomi, secara praktis modal ini sangat erat kaitannya dengan kekuatan finasial seorang kandidat. Walaupun demikian banyak atau sedikitnya uang yang dimiliki oleh seorang kandidat terkadang tidak menjamin seseorang bisa lolos untuk duduk di parlemen. Dalam hemat saya, setidaknya keterpenuhan modal budaya, ekonomi dan social menjadi kunci utama jika serius ingin maju dalam kontestasi pemilu ataupun pilkada. Modal simbolik bagi saya dalam konteks ruang dan waktu masih menjadi sekedar “bonus” atau hanya kebutuhan tersier bagi seorang kandidat. Jadi gimana, sudah punya modal politik apa saja? Oleh: Hendrasyah Putra


Selengkapnya
8767

Bukti Kita dalam Mensukseskan Pemilihan Kepala Daerah: Membangun Negeri di HUT Indonesia 2024 !

Pada tahun 2024, kita merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke-79, momen yang sangat tepat untuk merenungkan peran penting setiap individu dalam pembangunan bangsa. Salah satu wujud nyata dari kontribusi individu adalah partisipasi aktif dalam proses pemilihan kepala daerah. Proses ini bukan hanya sebuah ritual demokrasi, tetapi juga sebuah bentuk bakti kita terhadap negeri yang tercinta. Pemilihan Kepala Daerah: Pilar Demokrasi dan Pembangunan Pemilihan kepala daerah (pilkada) adalah salah satu pilar utama demokrasi di Indonesia. Melalui pilkada, rakyat memiliki kesempatan untuk memilih pemimpin yang mereka percaya dapat membawa perubahan positif dan memajukan daerahnya. Korelasi antara partisipasi individu dalam pilkada dan kesuksesan pembangunan daerah sangat erat dan signifikan. Korelasi Partisipasi Individu dan Kesuksesan Pilkada Pendidikan Politik dan Kesadaran Warga: Individu yang terdidik secara politik cenderung lebih memahami pentingnya memilih pemimpin yang kompeten dan berintegritas. Edukasi politik ini dapat dilakukan melalui diskusi, seminar, dan kampanye yang memberikan wawasan tentang visi dan misi calon pemimpin. Kesadaran politik yang tinggi akan meminimalisir politik uang dan memilih berdasarkan kapabilitas, bukan sekadar popularitas. Partisipasi dalam Pemungutan Suara: Tingkat partisipasi dalam pemungutan suara merupakan indikator kesehatan demokrasi. Semakin banyak rakyat yang terlibat, semakin legitimitas hasil pemilu. Setiap suara yang diberikan adalah bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap masa depan daerah. Pengawasan Proses Pemilihan: Individu juga dapat berperan dalam mengawasi jalannya pilkada. Dengan menjadi saksi atau pengawas pemilu, mereka dapat memastikan proses berjalan jujur, adil, dan transparan. Pengawasan ini penting untuk mencegah kecurangan dan menjaga kepercayaan publik terhadap sistem pemilihan. Kritik dan Saran Pasca Pemilihan: Setelah pilkada, peran individu tidak berhenti. Mereka harus terus memberikan kritik dan saran konstruktif kepada kepala daerah terpilih. Keterlibatan aktif dalam forum-forum publik dan partisipasi dalam musyawarah perencanaan pembangunan daerah (musrenbang) adalah contoh bagaimana individu dapat terus berkontribusi. Bakti terhadap Negeri di HUT Indonesia 2024 Merayakan HUT RI tahun 2024 dengan semangat kontribusi dalam pilkada adalah wujud bakti kita terhadap negeri. Setiap tindakan, mulai dari mendidik diri sendiri dan orang lain tentang pentingnya pilkada, hingga berpartisipasi aktif dalam proses pemungutan suara dan pengawasan, adalah langkah nyata dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Membangun Kesadaran Kolektif: Mari kita bangun kesadaran kolektif bahwa setiap suara dan setiap tindakan individu memiliki dampak besar terhadap masa depan daerah dan negara. Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila: Dengan berpartisipasi dalam pilkada, kita mengamalkan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat, yang menekankan pada kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Menjaga Integritas dan Kejujuran: Menghindari politik uang dan memilih dengan hati nurani adalah bentuk kejujuran dan integritas yang harus dijaga oleh setiap individu. HUT Republik Indonesia ke-79 adalah saat yang tepat untuk merenungkan dan memperkuat komitmen kita sebagai warga negara. Dengan turut mensukseskan pemilihan kepala daerah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga memberikan bakti terbaik bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Selamat HUT Republik Indonesia yang ke-79! Mari kita jadikan setiap tindakan kita sebagai bagian dari upaya besar untuk membangun Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera. (Admin) 


Selengkapnya