Demokrasi Tanpa Oposisi: Saat Semua Sepakat, Siapa yang Mengoreksi?
Demokrasi Tanpa Oposisi: Saat Semua Sepakat, Siapa yang Mengoreksi? Oleh: Lidia Wenny Di negara demokrasi, oposisi sejatinya bukan musuh negara. Justru sebaliknya, oposisi adalah alarm kebakaran demokrasi, ia terasa mengganggu ketika api belum terlihat, tetapi menjadi penentu ketika kekuasaan mulai lengah. Masalah muncul ketika alarm itu sengaja dimatikan, bukan karena bahayanya hilang, melainkan karena penguasa merasa lebih nyaman dalam kesepakatan yang seragam dan minim suara penantang. Strategi merangkul oposisi sering dibungkus dengan narasi persatuan dan stabilitas. Secara permukaan, langkah ini tampak dewasa dan menenangkan, seolah konflik politik telah diselesaikan secara elegan. Namun, sejak awal abad ke-19, Alexis de Tocqueville telah mengingatkan bahwa demokrasi justru rentan ketika perbedaan dilebur ke dalam keseragaman (Democracy in America, 1835). Ketika hampir semua kekuatan politik, elite sosial, media, tokoh agama, hingga figur publik berada dalam satu barisan kekuasaan, muncul ilusi harmoni yang tampak menenangkan. Semua terlihat rukun, sejalan, dan minim konflik. Namun justru di titik inilah demokrasi mulai kehilangan salah satu elemen terpentingnya: suara yang berbeda. Ketika hampir seluruh kekuatan politik berada di dalam lingkar kekuasaan, oposisi kehilangan fungsinya sebagai pengawas. Yang tersisa bukan lagi keseimbangan, melainkan konsensus semu, di mana kritik dianggap tidak perlu karena semua telah “sepakat”. Dalam The Origins of Totalitarianism (1951), Hannah Arendt menekankan bahwa kekuasaan yang paling berbahaya bukanlah kekuasaan yang memerintah dengan kekerasan semata, melainkan kekuasaan yang terbiasa tidak dipertanyakan. Keheningan publik sering kali dibaca sebagai stabilitas, padahal bisa jadi merupakan bentuk ketidakberdayaan. Ketika media kritis melemah dan tokoh-tokoh moral atau agama kehilangan ruang bersuara, masyarakat perlahan belajar bahwa mempertanyakan kebijakan memiliki konsekuensi. Lebih jauh, dalam Manufacturing Consent (1988), Noam Chomsky menjelaskan bahwa pembungkaman modern tidak bekerja melalui pelarangan informasi secara langsung, melainkan melalui pengendalian batas wacana. Kritik masih diperbolehkan sejauh tidak menyentuh inti kekuasaan. Kritik yang melampaui batas tersebut akan dipersempit ruangnya, dicurigai motifnya, atau dilemahkan legitimasi sosialnya. Dengan demikian, publik tetap merasa bebas berbicara, meskipun spektrum pembicaraannya telah dikendalikan. Dampak dari kondisi ini adalah normalisasi kepatuhan politik. Ketika hampir semua kebijakan diterima tanpa perdebatan yang setara, bukan karena kebijakan tersebut telah diuji secara kritis, melainkan karena tidak ada lagi kekuatan yang cukup berpengaruh untuk menolak, maka risiko kesalahan kebijakan meningkat. Demokrasi tetap ada secara bentuk, tetapi kehilangan kedalaman substantifnya. Demokrasi tidak berada dalam bahaya ketika kritik disuarakan dengan keras. Bahaya justru muncul ketika kritik masih terdengar, tetapi tidak lagi memiliki daya politik. Ketika persetujuan tampak menyeluruh, bukan karena perbedaan telah diselesaikan secara rasional, melainkan karena ruang untuk berbeda semakin sempit, demokrasi perlahan kehilangan maknanya. Sebab pada akhirnya, demokrasi tidak diukur dari seberapa rukun kekuasaan terlihat, melainkan dari seberapa aman perbedaan dapat hidup di dalamnya.
Selengkapnya